Ada Semangat Tapi Tidak Ada Ide Menulis

Sering tiba-tiba saya merasa semangat ingin menulis. Ketika niat itu akan coba dilaksanakan, terbentur di ide dan kebingungan menulis kata awal ketika mau menulis. Bagaimana itu Pak Jonru kira-kira?

Pengirim: Hariyanto Bin Karjono (Bengkulu) via Jonru Fan Page

Jawaban:

Halo Haryono,

Memang, dalam urusan tulis-menulis ide merupakan hal utama. Karena logikanya tanpa ada ide mana mungkin ada tulisan. Tapi, percayakah Anda kalau ‘ide’ merupakan hal abstrak yang bisa datang tanpa dikira-kira?

Dengan Kiat Menulis Bebas yang diterapkan di SMO (sekarang berubah menjadi Writers Academy) masalah tersebut bisa diatasi. Sebab pada dasarnya ide itu dapat datang bahkan ketika kita sedang dalam proses menulis.

Secara umum, konsep menulis bebas mengedepankan niat atau semangat seperti yang Anda punya itu. Jadi, jika Anda sudah punya semangat menulis, Anda sebetulnya sudah punya modal yang sangat penting. Selamat.

Selanjutnya, jangan biarkan kemandekan itu menghalangi Anda untuk menulis. Bahkan justru jadikan kemandekan itu sebagai ide awal Bapak untuk menulis. Tulis saja seperti ini misalnya

“Saya bingung nih, mau nulis apa. Apa yang harus saya tulis, ya? Kenapa ide sama sekali tidak muncul? Padahal kemarin saya ada ide, lho. Kenapa sekarang idenya hilang tak berbekas? Kenapa? Kenapa saya jadi blank begini?…..”

Berdasarkan pengalaman saya dan orang-orang yang sudah mengaplikasikan kiat menulis bebas, dari tulisan semacam di atas ide akan memancar dengan sendirinya.

Lupakan dulu aturan-aturan tentang penulisan dan teori-teori baku. Ekspresikan dulu spontanitas dan letupan-letupan pikiran yang ada pada saat itu. Pada tahapan ini, Anda tidak perlu mempermasalahkan semua teori tersebut bahkan Anda tidak perlu memeriksa dulu tulisan Anda.

Mungkin Anda akan bertanya kenapa kita tidak memeriksa tulisan kita sejak tahap pertama ini? Bukankah akan lebih efisien? Memang jika kita mementingkan efektifitas itu merupakan langkah yang tepat. Namun, terkadang ketika kita memeriksa tulisan di tengah proses pertama ini, justru akan menghambat ide-ide yang juga muncul karena terganggunya ritme menulis kita. Hasilnya adalah kemandekan-kemandekan dan berdampak berkurangnya semangat menulis. Jadi, daripada kita malah justru berhenti menulis karena mandek, lebih baik tunda dulu memeriksa tulisannya.

Setelah semua tertuang di kertas, beristirahatlah untuk menyegarkan lagi pikiran Anda. Nanti ketika pikiran kembali rileks dan siap diajak “kerja” kembali, barulah mulai memeriksa tulisan Anda tadi.

Pada tahapan inilah Anda mulai kembali menggunakan semua teori yang Anda ketahui tentang penulisan seperti melihat kepaduan dari tiap kalimat, tanda baca, ejaan-ejaan, dan ide besar tulisan Anda sendiri. Karena mungkin saja pada tahapan ini Anda akan melihat bahwa justru tulisan Anda memiliki dua ide besar yang bisa dipisah untuk menjadi tulisan yang berbeda. Hal yang menguntungkan bukan? Jadi Anda tidak kesulitan untuk menulis tulisan Anda selanjutnya.

Cara menulis secara dua tahap ini pada dasarnya hanya langkah awal bagi Anda untuk menemukan ritme menulis Anda sendiri. Pada nantinya ketika Anda sudah lebih mahir, Anda tidak perlu terpaku lagi dengan kiat ini. Anda bisa mengedit tulisan Anda di tengah-tengah proses menulis jika memang hal ini ternyata tidak mengganggu lagi bagi Anda.

Jadi selamat memulai menulis dan tidak perlu ragu lagi. Karena sejatinya kita tidak perlu menjadi ahli untuk memulai tapi kita perlu memulai untuk menjadi ahli.

Untuk penjelasan lebih lengkap, silahkan berkunjung ke sini. Di situ Anda akan menemukan penjelasan lebih lengkap dan jelas tentang kiat menulis yang saya paparkan ini.

Terima kasih

Semoga penjelasan ini membantu dan bermanfaat.

Salam sukses untuk Anda!

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *